Perkembangan Teknologi Informasi
Perkembangan teknologi informasi yang sedemikian cepatnya telah membawa
dunia memasuki era baru yang lebih cepat dari yang pernah dibayangkan
sebelumnya. Setidak-tidaknya ada empat era penting sejak ditemukannya
komputer sebagai alat pengolah data sampai dengan era Internet saat
komputer menjadi senjata utama dalam berkompetisi.
Setiap era memiliki karakteristik masing-masing, dan secara langsung
maupun tidak langsung memiliki hubungan yang erat dengan alam kompetisi
dunia usaha, baik secara makro maupun mikro. Yang harus dipahami, tidak
semua negara di dunia telah memasuki pemanfaatan komputer yang dicirikan
oleh era keempat selain negara-negara maju seperti Amerika Serikat,
Jepang, Australia, Jerman, Inggris dan negara-negara besar lainnya.
Perkembangan Teknologi Komputer
Tidak dapat disangkal, bahwa salah satu penyebab utama terjadinya era
globalisasi yang datangnya lebih cepat dari dugaan semua pihak adalah
karena perkembangan pesat teknologi informasi. Implementasi Internet,
e-commerce, EDI, dan sebagainya telah menerobos batas- batas fisik antar
negara. Penggabungan antara teknologi komputer dan telekomunikasi telah
menghasilkan suatu revolusi dibidang sistem informasi.
Data atau informasi yang pada zaman dahulu harus memakan waktu
berhari-hari untuk diolah sebelum dikirimkan ke sisi lain di dunia,
saatinidapat dilakukan dalam hitungan detik. Tidak berlebihan jika salah
satu paket IBM menganalogikannya dengan perkembangan otomotif sebagai
berikut “seandainya dunia otomotif mengalami kemajuan sepesat teknologi
informasi, saat ini telah dapat diproduksi sebuah mobil berbahan bakar
solar yang dapat dipacu dengan kecepatan maksimum 10.000 Km/Jam, dan
dengan harga beli hanya 1 dolar“.
- Era Komputerisasi
Periode ini dimulai sekitar tahun 1960-an ketika minicomputer dan
mainframe diperkenalkan perusahaan, seperti IBM ke dunia industri.
Kemampuan menghitung yang sedemikian cepat menyebabkan banyak sekali
perusahaan yang memanfaatkannya untuk keperluan pengolahan data. Pemakai
komputer dimasa ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, karena
terbukti untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, menggunakan komputer jauh
lebih efisien (dari segi waktu dan biaya) dibanding dengan mempekerjakan
berpuluh-puluh SDM untuk hal serupa.
Pada era tersebut belum terlihat suasana kompetisi yang sedemikian
ketat.Jumlahperusahaanpun masihrelatifsedikit. Kebanyakan perusahaan
besar secara tidak langsung memonopoli pasar-pasar tertentu, karena
belum ada pesaing yang berarti. Hampir semua perusahaan besar yang
bergerak dalam bidang infrastruktur (listrik telekomunikasi) dan
pertambangan pada saat itu membeli perangkat komputer untuk membantu
kegiatan administrasi.
Keperluan organisasi yang paling banyak menyita waktu komputer pada saat
itu adalah untuk administrasi back office, terutama yang berhubungan
dengan akuntansi dan keuangan. Dipihak lain, kemampuan mainframe untuk
melakukan perhitungan rumit juga dimanfaatkan perusahaan untuk membantu
menyelesaikan masalah- masalah teknis operasional, seperti simulasi
perhitungan pada industri pertambangan dan manufaktur.
- Era Teknologi Informasi
Kemajuan teknologi digital yang dipadu dengan telekomunikasi telah
membawa komputer memasuki masa-masa “revolusi-nya. Awal tahun 1970-an,
teknologi PC mulai diperkenalkan sebagai alternatif pengganti
minicomputer. Dengan seperangkat komputer yang dapat ditaruh dimeja
kerja (desktop), seorang manajer atau teknisi dapat memperoleh data atau
informasi yang telah diolah oleh komputer (dengan kecepatan yang hampir
sama dengan kecepatan minicomputer bahkan mainframe).
Kegunaan komputer diperusahaan tidak hanya untuk meningkatkan efesiensi,
tapi juga untuk mendukung terjadinya proses kerja yang lebih efektif.
Tidak seperti halnya pada era komputerisasi ketika komputer hanya
menjadi “milik pribadi” Divisi EDP (Electronic Data Processing)
perusahaan, diera kedua inisetiap individu diorganisasi dapat
memanfaatkan kecanggihan komputer, seperti untuk mengolah basisdata,
spreadsheet, maupun data processing (end user computing). Pemakai
komputer dikalangan perusahaan semakin marak, terutama didukung oleh
alam komputerisasi yang telah berubah dari monopoli menjadi pasar bebas.
Secara tidak langsung perusahaan telah memanfaatkan teknologi komputer
sangat efisien dan efektif dibandingkan perusahaan yang sebagian
prosesnya masih dikelola secara manual.
Pada era inilah komputer memasuki babak barunya, yaitu sebagai suatu
fasilitas yang dapat memberikan keuntungan kompetisi bagi perusahaan,
terutama yang bergerak dibidang pelayanan atau jasa.
- Era Sistem Informasi
Teori-teori manajemen organisasi secara intensif mulai diperkenalkan di
awal tahun 1980-an. Teori yang paling banyak dipelajari dan diterapkan
adalah mengenai manajemen perubahan (change management). Pada hampir
semua kerangka teori manajemen perubahan ditekankan pentingnya teknologi
informasi sebagai salah satu komponen utama yang harus diperhatikan
oleh perusahaan yang ingin menang dalam persaingan bisnis. Seperti pada
kedua era sebelumnya yang lebih menekankan pada unsur teknologi, pada
era manajemen perubahaan yang lebih ditekankan adalah sistem informasi,
karena komputer dan teknologi informasi merupakan komponen dari sistem
tersebut.
Kunci keberhasilan perusahaan di era tahun 1980-an adalah penciptaan dan
penguasaan informasi secara cepat dan akurat. Beberapa ahli manajemen
menekankan bahwa perusahaan yang menguasai informasilah yang memiliki
keunggulan kompetitif di dalam lingkungan makro “regulated free market“.
Pada periode ini,perubahaan secarafilosofidariperusahaan tradisional
menuju perusahaan modern terletak bagaimana menajemen melihat kunci
kinerja perusahaan. Organisasi tradisional melihat struktur perusahaan
sebagai kunci utama pengukuran kinerja, sehingga semuanya diukur secara
hirarki berdasar kandivisi-divisiatau departemen.
Dalam teori organisasi modern, ketika persaingan bebas telah menyebabkan
customer harus pandai-pandai memilih produk yang beragam dipasar,
proses penciptaan produk atau pelayanan kepada pelanggan merupakan kunci
utama kinerja perusahaan. Keadaan ini sering diasosiakan dengan istilah
manajemen seperti “market driven” atau “customer base company” yang
pada intinya adalah penilaian kinerja perusahaan dari kepuasan para
pelanggannya. Dan yang sangat jelas dalam format kompetisi yang baru ini
adalah bahwa peranan komputer dan teknologi informasi yang digabungkan
dengan komponen lain seperti proses, prosedur, struktur organisasi, SDM,
budaya perusahaan, manajemen dan komponen terkait lainnya, dalam
membentuk sistem informasi yang baik, merupakan salah satu kunci
keberhasilan perusahaan secara strategis.
Tidak dapat disangkal lagi bahwa kepuasan pelanggan terletak pada
kualitas pelayanan. Pada dasarnya, dalam memilih produk atau jasa yang
dibutuhkannya, seorang pelanggan akan mencari perusahaan yang menjual
produk atau jasa tersebut lebih murah (cheaper), lebih baik (better),
dan lebih cepat (faster).
Disinilah peranan sistem informasi sebagai komponen utama dalam
memberikan keunggulan kompetitif perusahaan. Oleh karena itu kunci
kinerja perusahaan adalah pada proses yang terjadi baik di dalam
perusahaan (back office) maupun yang langsung bersinggungan dengan
pelanggan (front office). Dengan memfokuskan diri pada penciptaan proses
(business process) yang efisien, efektif, dan terkontrol dengan baiklah
sebuah perusahaan akan memiliki kinerja yang handal.
Tidak heran bahwa di era tahun 1980-an sampai dengan awal tahun 1990-an
terlihat banyak sekali perusahaan yang melakukan BPR (Business Process
Reengineering), restrukturisasi, implementasi ISO-9000, implementasiTQM,
instalasi dan pemakaian sistem informasi korporat (SAP, Oracle, BAAN)
dan lain sebagainya.
- Era Globalisasi Informasi
Ketika sebuah Seminar Internasional mengenai Internet diselenggarakan di
San Fransisco pada tahun 1996, para praktisi teknologi informasi yang
dahulu bekerja sama dalam penelitian untuk memperkenalkan Internet ke
dunia industri pun secara jujur mengaku bahwa mereka tidak pernah
menduga perkembangan Internet akan menjadi seperti ini. Ibaratnya mereka
melihat bahwa yang ditanam adalah benih pohon ajaib, yang tiba-tiba
membelah diri menjadi pohon raksasa yang tinggi menjulang. Sulit untuk
menemukan teori yang dapat menjelaskan semua fenomena yang terjadi sejak
awal tahun
1990-an ini, namun fakta yang terjadi dapat disimpulkan sebagai berikut :
Tidakadayangdapatmenahanlajunyaperkembangan teknologi informasi.
Keberadaannya telah menghilangkan garis-garis batas antar negara dalam
hal flow of information. Tidak ada negara yang mampu mencegah
mengalirnya informasi dari atau keluar negara lain, karena batasan antar
negara tidak kenal dalam dunia maya. Penerapan teknologi seperti LAN,
WAN, GlobalNet, Internet, Intranet, dan Ekstranet semakin hari semakin
merata dan membudaya dimasyarakat. Terbukti sangat sulit untuk
menentukan perangkat hukum yang sesuai dengan terbukti efektif untuk
menangkal segala hal yang berhubungan dengan penciptaan dan aliran
informasi.
Perusahaan-perusahaan pun sudah tidak terikat lagi pada batasan fisik.
Melalui dunia maya, seseorang dapat mencari pelanggan di seluruh lapisan
masyarakat dunia yang terhubung dengan jaringan Internet.
Transaksi-transaksi perdagangan dapat dengan mudah dilakukan di
cyberspace melalui transaksi elektronik dengan pembayaran secara
elektronik pula (electronic payment). Kemudahan- kemudahan yang
ditawarkan perangkat canggih teknologi informasi telah mengubah mindset
manajemen perusahaan sehingga tidak jarang terjadi perusahaan yang
banting stir menggeluti bidang lain.
Bagi negara dunia ketiga atau yang sedang berkembang, dilema mengenai
pemanfaatan teknologi informasi amat terasa. Disatu sisi banyak
perusahaan yang belum siap karena struktur budaya atau SDM-nya,
sementara dipihak lain investasi besar harus dikeluarkan untukmembeli
perangkat teknologi informasi. Tidakmemiliki teknologi informasi,
berarti tidak dapat bersaing dengan perusahaan multinasional lainnya,
alias harus gulung tikar.
Lingkungan bisnis yang ada pada saat ini sedemikian seringnya berubah
dan dinamis. Perubahan yang terjadi tidak hanya sebagai dampak kompetisi
yang ketat, namun dipengaruhi juga dengan faktor-faktor eksternal
lainya seperti politik, ekonomi dan sosial budaya yang secara tidak
langsung menghasilkan kebijakan atau peraturan baru yang harus ditaati
perusahaan.
Secara operasional, tentu saja fenomena ini sangat menyulitkan para
praktisi teknologi informasi dalam menyusun sistemnya. Tidak jarang
terjadi perubahan kebutuhan sehingga harus diadakan analisis ulang
terhadap sistem yang akan dibangun. Dengan mencermati keadaan ini, jelas
terlihat kebutuhan baru akan teknologi yang mampu adaptif terhadap
perubahan. Para praktisi negara maju menjawab tantangan ini dengan
menghasilkan produk-produk aplikasi yang berbasis objek, seperti OOP
(Object Oriented Programming), OODBMS (Object Oriebted Database
Management System), dan sebagainya.
Dari keempat era diatas terlihat bagaimana alam kompetisi dan kemajuan
teknologi informasi sejak dipergunakannya komputer dalam industri
sehingga terkait erat satu dengan lainnya pada saat sekarang. Memasuki
babak informasi berarti memasuki dunia dengan teknologi baru, teknologi
informasi.